Di Balik Fitur Autopilot Mobil Tesla, Ada Sosok Wanita Indonesia

  • 3 min read
  • Jan 03, 2021

Bekerja.id, – Bicara tentang mobil listrik pasti tidak asing dengan mobil listrik merek Tesla, yang sudah tersohor di dunia ini. Tidak hanya sebagai pionir untuk pengembangan mobil listrik, rupanya Tesla juga menjadi pionir untuk pengembangan mobil mode autopilot atau mobil yang dapat mengemudi sendiri.

Akhir-akhir ini banyak perbincangan terkait hubungan industri mobil listrik Tesla dengan pihak Indonesia. Dikabarkan bahwa perusahaan yang dimiliki Elon Musk akan mendirikan sebuah pabrik baterai electric vehicle (EV) di Indonesia. Mengingat bahwa Indonesia mempunyai nikel yang terbaik di dunia yang pernah di ungkapkan oleh Musk.

Dikabarkan juga bahwa pada Januari 2021, Musk akan menjajaki terkait investasi di Indonesia dengan mengirimkan tim khususnya untuk datang secara langsung di Indonesia. Ini adalah tindak lanjut dari pembicaraan yang dilakukan presiden Joko Widodo dengan Elon Musk pada November 2020 yang lalu.

Namun perlu kawan “bekerja” tahu ternyata salah satu teknisi (engineer) yang turut dalam pengembangan teknologi autopilot Tesla itu ternyata orang Indonesia. Teknisi yang dimaksud ini adalah seorang wanita, ia bernama Moorissa Tjokro.

Moorissa Kembangkan Fitur Tertinggi Autopilot Tesla

Morrisa Tjokro adalah salah satu engineer dari enam Autopilot Software Engineer yang bekerja di perusahaan Tesla yang berlokasi di California. Moorissa adalah satu-satunya perempuan yang melakukan tugas tersebut. Selain itu profesi ini juga jarang ditekuni oleh perempuan.

Meskipun Tesla sudah memiliki fitur mobil autopilot, namun Tesla juga sedang mengembangkan fitur Artificial Intelligence secara penuh atau Full-Self-Driving , menurut pengakuan Moorissa kepada VOA Indonesia. Meskipun mobil autopilot sekarang sudah bisa digunakan, namun masih secara terbatas.

“Menjadi Autopilot Software Engineer, suatu pekerjaan yang berhubungan dengan computer vision, contohnya gimana cara mobil dapat mendeteksi dan [melihat] lingkungan disekitarnya. Apakah di depan kita ada mobil atau benda yang bisa menghalangi laju mobil? Tempat sampah disamping kita? Serta dapat mengontrol laju gerak mobil atau disebut dengan control and maneuver in a certain way,” ujar Morrisa kepada VOA Indonesia (03/12/2020).

Perlu kawan “bekerja” ketahui bahwa, fitur Full-Self-Driving adalah salah satu proyek yang sedang dikembangkan oleh Tesla menjadikan tingkat tertinggi dari sistem autopilot. Sehingga dalam mengemudikan mobil tesla kawan “bekerja” tidak perlu menginjak pedal gas maupun rem, sehingga bisa secara otomatis dilakukan oleh sistem.

“Kita ingin mobilnya dapat [bekerja] dengan sendirinya, Bahkan bisa [bekerja] walaupun di tikungan-tikungan. Selain itu juga tidak hanya bisa dilakukan di jalan tol saja, namun dapat [bekerja] di jalan biasa,” ujar perempuan lulusan S2 Data Science di Columbia University, New York, itu.

“Bekerja” 70 jam Sepekan dan Dibekali Mobil Tesla

Pada Desember 2018, Moorissa mulai mengawali karirnya di Tesla menjadi Data Scientist pada perangkat lunak sebelum ia menjadi Autopilot Software Engineer di Tesla.

Tugas sehari-harinya adalah mengevaluasi setiap kinerja dari perangkat lunak autopilot. Dimulai dari pengujian kinerja mobil tersebut hingga mencari cara untuk meningkatkan kinerja sistem tersebut. Moorissa mengaku bahwa dalam pengembangan fitur autopilot tertinggi ini membutuhkan proses pengembangan dan pengerjaan fitur yang begitu rumit.

Ia pun mengakui bahwa proses pekerjaan ini bisa memakan waktu jam kerja yang sangat panjang, terutama pada bagian tim autopilot. Bahkan dia mengatakan kalau jam kerjanya bisa mencapai 70 jam dalam sepekan. Jika dihitung dengan hari kerja Senin-Jumat, dapat diartikan bahwa Moorissa bisa bekerja 14 jam dalam sehari.

“Kita menginginkan, bagaimana cara sistem autopilot tersebut dapat  [bekerja] seaman mungkin. Sebelum melakukan peluncuran autopilot software -nya, selalu diuji secara ketat atau yang disebut dengan very rigorous testing, sehingga bisa menentukan dan menghitung resiko-resiko pada sistem komputer, supaya bisa digunakan dengan aman pada semua sistemnya,” tambah wanita kelahiran 1994 yang menetap di Amerika sejak 2011 lalu.

Meskipun fitur tersebut belum bisa digunakan secara keseluruhan, Moorissa mengaku senang bahwa badan nasional Amerika Serikat maupun Eropa sudah memberikan sertifikat kepada Tesla sebagai mobil teraman di dinia.

Untuk mendukung kinerja tersebut, Moorissa pun dibekali dengan mobil Tesla yang dapat ia gunakan setiap hari. Hal tersebut juga untuk menguji perangkat lunak mobil tersebut.

Bermimpi Membangun Yayasan Pemberantas Kemiskinan di Indonesia

Kelihatannya Tesla dan Moorissa sudah berjodoh, Pasalnya Moorissa tidak pernah mengirimkan sebuah lamaran kerja ke perusahaan Tesla tersebut.

“Sebetulnya beberapa temanku mengikuti intern di Tesla, sekitar dua tahun yang lalu. Dan temaku tersebut sempat mengirimkan resume-ku ke timnya. Dari situlah aku dikenalakan ke perusahaan Tesla, aku pun juga enggak pernah lamar ke perusahaan tersebut, jadi langsung di kontak sama tim Tesla-nya sendiri. Dan dari situlah awal mulai interview dengan pihak Tesla,” ujarnya.

Moorissa adalah salah satu perempuan dari sebagian kecil yang menekuni serta terjun dalam bidang Sains, Teknologi, Teknik/Egineering, dan Matematika (STEM). Ia pun menjadi sedikit dari wanita yang “bekerja” di Tesla sebagai egineer.

“Pegawai perempuan di kantor memang tidak banyak, bahkan ditempat saya [bekerja] hanya ada 6 perempuan dari 100 engineer. Itupun dua dianatara mereka adalah product managers,” ujar wanita yang suka dengan matematika dan alajabar itu.

Meski demikian, Moorissa pun tidak pernah mengalami diskriminasi maupun perbedaan pekerjaan yang kebanyakan pekerjaan tersebut didominasi oleh laki-laki itu. Namun Moorissa juga tidak menyangkal bahwa ia mengaku kurang motivasi terhadapa perempuan untuk meraih posisi eksekutif di dunia otomotif dan teknologi.

Salah satunya masih jarang perempuan yang terjun ke dunia STEM yang dapat menjadi panutan perempuan. Bahkan hal tersebut juga diakui oleh Association of University Women terkait dengan jumlah perempuan yang “bekerja” di bidang STEM, sekitar 28 persen.

Mungkin itulah sedikit cerita dari Moorisa Tjokro, sebagai Autopilot Software Engineer di Tesla.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.