Selama Pandemi Indonesia Jadi Negara dengan IPO Terbanyak di Asean

  • 3 min read
  • Des 23, 2020

Akibat adanya Covid-19 kinerja bursa saham Indonesia sempat terpuruk. Kondisi tersebut berdampak pada pasar modal Indonesia dan global. Selain sentimen negatif dari krisis kesehatan, hal tersebut juga berdampak pada pergerakan pasar saat hubungan dua negara ekonomi terbesar dunia yaitu Amerika Serikat dan China saling tuding terkait siapa “penyebar” virus pertama.

Dimulai dari Amerika yang menuduh China tidap mampu menghalau penyebaran Covid-19, juga terkait masalah undang-undang Hongkong , hingga pengusiran konsulat China di AS.

Adanya dampak negatif tersebut terutama dampak Covid-19 membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan. Dari posisi tertinggi sebelumnya 6.299,54 poin pada akhir 2019 menjadi level 3.937,63 poin pada 24 Maret 2020. Dimana bulan tersebut sebagai awal masuknya Covid-19 di Indonesia.

Siapa sangka di tengah Pandemi yang melanda Indonesia membuat iklim penawaran Indonesia dinilai masih sehat. Hal ini dapat dilihat pencatatan Bursa Efek Indonesia menunjukan bahwa Indonesia menjadi negara dengan Initial Public Offering (IPO) terbanyak di Asia Tenggara.

Jumlah Perusahaan yang IPO di Indonesia Lebih Banyak Dibanding Singapura dan Malaysia

Bursa Efek Indonesia mencatat sebanyak 46 perusahaan yang sudah IPO dengan nilai Rp5,22 triliun hingga penutupan kuartal ketiga 2020. Jumlah tersebut bisa dibilang cukup tinggi jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya.

Thailand dan Malaysia mencatat 14 perusahaan yang menggelar IPO Saham. Sedangkan Filipina hanya mencatat IPO dua perusahaan dan Singapura mencatat jumlah IPO sebanyak lima perusahaan.

Menurut Bloomberg, jumlah IPO di Indonesia merupakan yang tertinggi dalam 20 terakhir yang dicatatkan Indonesia pada tahun 2020. Jika tren ini akan mengalami peningkatan, maka ada kemungkinan Indonesia menambah daftar perusahaan IPO hingga kuartal terakhir 2020.

Meskipun jumlah perusahaan Indonesia mencapai 46 yang sudah melaksanakan IPO Saham, namun nilai emisinya masih tergolong relative kecil. Bahwa nilai emisi dari 46 perusahaan tersebut berjumlah Rp5,22 triliun atau sekitar 360 juta dolar AS ini masih tergolong kecil dibandingkan Malaysia.

Memang Malaysia sudah mengoleksi 14 perusahaan yang melantai di bursa, namun nilai emisinya mencapai 480 juta dolar AS. Bahkan Thailand yang mencatat 14 perusahaan yang menggelar IPO itu mempunyai nilai emisi jauh lebih besar yaitu 4,19 miliar dolar AS.

Meskipun begitu Indonesia masih punya harapan untuk menambah nilai emisinya sebab berdasarkan pipeline per  27 November 2020 Bursa Efek Indonesia (BEI) masih ada 20 perusahaan yang akan menuju di bursa. Dari 20 perusahaan tersebut, recananya akan mencatatkan saham pertama mereka pada akhir tahun 2020 ini atau pada kuartal pertama di tahun 2021.

IPO Sampai Tahun 2021 Diprediksi Masih Ramai

 

Banyaknya perusahaan melakukan penawaran umum perdana saham di pasar modal dari 46 perusahaan di tahun 2020, para analis memprediksi di tahun 2021 gelaran IPO masih berpotensi positif. Bahkan bisa mencatatkan rekor IPO terbanyak dan lebih ramai jika dibandingkan dengan tahun 2020.

Mengingat situasu pandemi April 2020 lalu, IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) pernah mencatatkan sebagai bursa saham teramai di Asia. Menurut riset Ernst an Young bertajuk Global IPO Trends: Q1 2020, Indonesia mencatatkan 18 perusahan melepas saham perdananya yang di listing bursa Indonesia.

Pada kuartal pertama jumlah perusahaan itu melesat 157 persen. Jumlah tersebut lebih banyak jika dibandingkan dengan Malaysia yang mencatatkan enam perusahaan, sedangkan Thailand hanya mencatatkan dua perusahaan.

Menurut Wawan Hendrayana selaku Head of Invesment Research Infovesta Utama, Bahwa tahun 2021 kondisi ekonomi dan kondisi pasar terbilang stabil. Selain dari penerbitan obligasi dan pendanaan perbankan, hal ini dapat memicu perusahaan-perusahaan untuk memperoleh dana segar melalui IPO.

Beberapa saham baru seperti di sektor telekomunikasi, sektor kesehatan, sektor keuangan dan terkait pertambangan nikel, menarik untuk dicermati. Di tahun 2021 mendatang sektor telekomunikasi masih menarik sebab kegiatan sekarang ini masih banyak dilakukan secara daring.

Selain itu pertambang nikel juga menarik untuk diperhatikan seiring dengan rencana investasi perusahaan Tesla Inc di Indonesia yang akan dimulai pembicaraan direncanakan pada Januari 2021 yang akan datang.

Pada 18 Desmber 2020, pemerintah Indonesia sudah melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan LG Energy Solution untuk membangun pabrik baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Di sisi lain dari sektor teknologi, bahwa Tokopedia akan melakukan IPO di tahun 2021 yang akan datang hal ini menarik diperhatikan. Bahakan IPO rintisan unicorn ini akan banyak diminati dan dinantikan.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *