Sulawesi Kembali Diguncang Gempa, Kenapa Sering Terjadi?

  • 2 min read
  • Jan 15, 2021

Bekerja.id, – Selama dua hari berturut-turut dua gempa besar melanda Sulawesi Barat, tepatnya di Kabupaten Majene dan Mamuju. Gempa pertama terjadi pada hari Kamis (14/01) pukul 14.45 WITA dengan magnitudo 5,9. Kemudian hari ini (15/01) kembali terjadi gempa dengan magnitudo 6,2 pukul 02.28 WITA. Setelah dua gempa yang cukup besar tersebut, masih terdapat beberapa kali gempa susulan dengan kekuatan yang lebih kecil. Masyarakat diminta untuk tetap berwaspada terhadap rangkaian susulan yang bisa terjadi.

Menurut informasi dari Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Kimatologi, dan Geofisikaa (BMKG), Daryono, gempa pertama yang memiliki magnitudo 5,9 terjadi di 4 km arah barat laut Majene, Sulawesi barat. Pusat gempa kedua juga berada di darat pada kedalaman 10 km. Penyebab dari gempa tersebut adalah aktivitas dari Sesar Naik Mamuju-Majene (Mamuju thrust). Gempa pertama diduga merupakan gempa pembuka (foreshock) dari gempa utama (mainshock) yang terjadi hari ini (15/01).

Adanya peningkatan magnitudo secara signifikan menyebabkan dampak kerusakan yang ditimbulkan dari gempa kedua lebih luas dan parah.

Kenapa sering terjadi gempa di Sulawesi?

Sulawesi merupakan salah satu pulau di Indonesia yang paling rawan terkena bencana gempa bumi. Hal itu terjadi karena pulau Sulawesi terletak di antara pertemuan tiga mega lempeng dunia yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik, serta microplate Filipina.

Batas lempeng yang menggambarkan aktivitas tektonis di Indonesia. (IndoCropCircles.com).

Lempeng Pasifik bergerak ke arah barat, lempeng Eurasia yang bergerak ke arah selatan-tenggara, dan lempeng yang lebih kecil yaitu lempeng Filipina.

Lempeng yang terus bergerak menyebabkan terjadinya gesekan antar lempeng. Gesekan atau tumbukan tersebut menyimpan energi yang makin lama makin besar sehingga terbentuklah patahan-patahan yang sering disebut sesar. Oleh karena itu, terdapat banyak Sesar aktif tersebar di Pulau Sulawesi.

Ketika sesar atau patahan-patahan tersebut tidak lagi dapat menahan tekanan yang timbul akibat tumbukan, maka akan terjadi pelepaskan energi yang menyebabkan adanya gempa bumi.

Sulawesi memiliki tatanan tektonik yang kompleks. Dikutip dari TEMPO, dijelaskan bahwa sekitar 30 juta tahun lalu, Sulawesi masih terpisah-pisah yang sebagian menempel di Pulau Kalimantan dan sebagian lagi menempel di Pulau Jawa. Pulau Sulawesi diperkirakan terbentuk pada 1 juta tahun silam. Dengan kata lain, Pulau Sulawesi terbentuk akibat adanya pergeseran lempeng sehingga tidak heran bahwa banyak sesar-sesar aktif yang sewaktu-waktu dapat menyebabkan terjadinya gempa.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.