Wajib Tahu! 10 Hal Berikut Sebelum Investasi Bitcoin Kripto

  • 13 min read
  • Jul 24, 2021

Rickwiese.com – Investasi Bitcoin adalah kebenaran di era digital sekarang ini. Pemula perlu belajar seluk beluk investasi di Bitcoin, sesaat akan mulai masuk.

Sebelumnya, kenapa Bitcoin begitu fenomenal.

Pertama, kenaikkan harga Bitcoin yang mengagumkan dalam beberapa tahun ini.

Catatan saya, harga bitcoin naik kurang lebih 700% lebih sejak setahun terakhir. Menaklukkan return asset – asset keuangan yang lain.

Kedua, Bitcoin mulai diambil oleh banyak lembaga ternama.

Salah satu contohnya adalah PayPal. Baru – baru ini, PayPal sebagai alat pembayaran transaksi online paling besar di dunia – 300+ juta pengguna, menginformasikan jika mereka saat ini menerima Bitcoin. Pengguna PayPal dapat menyimpan dan lakukan transaksi dengan Bitcoin di PayPal.

Ketiga, go-public nya Coinbase di Nasdaq USA di April 2021 dengan market cap capai $65 billion menandai masuknya Bitcoin ke Wall Street.

Coinbase adalah exchange Bitcoin paling besar di USA. Keuntungan perusahaan ini ditentukan oleh harga Bitcoin di pasar.

Investasi di Coinbase secara tidak langsung memiliki arti investasi di Bitcoin. Oleh sebab itu, masuknya Coinbase ke Wall Street dengan market cap sebesar itu pertanda mulai diterimanya Bitcoin oleh pelaku pasar pada umumnya.

Keempat, ini yang paling mencengangkan saya, jika berdasarkan data terakhir dari Bappebti ada 6.5 juta nasabah crypto di Indonesia. Ini luar biasa karena jumlah nasabah saham di Indonesia, yang notaben lebih dulu, baru capai 4 jutaan.

Maka ketertarikan investasi Bitcoin dan aset kripto lainnya di Indonesia tidak bisa dipandang remeh. Perubahannya luar biasa.

Lalu, bagaimana buat pemula yang ingin lakukan investasi di Bitcoin. Saran saya, pelajari dengan baik.

Karena investasi terbaik adalah investasi di instrument yang kita ketahui.

Berikut adalah 10 fakta investasi Bitcoin yang pemula seharusnya pahami dan pelajari:

1. Aset Digital Terdesentralisasi

Bitcoin adalah aset digital. Berarti, kita tidak bisa melihat fisik dari Bitcoin, berbeda dengan uang kertas atau emas, yang fisiknya kita dapat pegang dan rasakan.

Data Bitcoin disimpan dalam jaringan Blockchain dengan pemilik memegang private key dan public key. Private key harus dipegang secara rahasia karena bila ketahuan oleh seseorang, maka Bitcoin dapat lenyap.

Jadi , bila ada yang berasumsi bahwa Bitcoin diragukan karena tidak dapat dilihat fisiknya, itu sebuah kesalahpahaman. Bitcoin memang aset yang dibuat tidak dapat dilihat.

Selain digital, Bitcoin dan asset kripto yang lain memiliki sifat terdesentralisasi. Ini menjadi karakter khusus.

Apa maksudnya ?

Jika kirim uang antar rekening, kita bergantung pada bank. Bank yang akan mengecek dan memvalidasi transaksi itu, memastikan jika yang satu punya saldo uang cukup dan lainnya terima uangnya.

Kita mengikuti dan taat pada bank sebagai pihak yang memegang otorisasi dalam transaksi perbankan.

Mekanisme perbankan ini disebut sentralisasi.

Dalam transaksi di Bitcoin, misalkan pengiriman coin dari satu tempat ke tempat lain, proses verifikasi dan validasi dilakukan oleh komunitas lewat jaringan blockchain. Tidak ada satu pihak terpusat, seluruh pihak dalam jaringan yang membuat kesepakatan untuk memutuskan apakah transaksi benar atau mungkin tidak.

Pembuat Bitcoin membuat prosedur dalam Blockchain untuk tentukan bagaimana cara komunitas yang terdesentralisasi ini capai kesepakatan.

Jadi , bila ada yang mengomentari bahwa Bitcoin tidak ada penjaminnya, seperti negara yang jamin suatu mata uang, itu sebuah kesalahpahaman. Bitcoin memang dibuat sejak awal tanpa penjamin.

Desentralisasi sebagai dasar Bitcoin dan Kripto bekerja bawa banyak kelebihan tipe aset ini dibanding aset – aset yang lain, seperti emas, saham, obligasi dan lain-lainnya.

2. Keunggulan

Kita harus kembali dulu sebentar ke tahun 2008 di mana Bitcoin dibuat. Waktu itu, dunia dilanda kritis keuangan global, yang berawal dari kebangkrutan beberapa perusahaan investasi di USA, karena kritis mortgage.

Langkah pemerintah USA dan negara lain hadapi kritis itu, salah satunya, adalah cetak uang dengan jumlah masif untuk memompa ekonomi supaya kembali bangkit. Miliar dollar diciptakan dan ditumpahkan ke sistem ekonomi oleh Federal Reserve, Bank Sentral USA.

Ekonomi memang selamat, tapi nilai mata uang jadi semakin turun. Supply uang yang semakin besar membuat nilai uang menurun.

a. Supply Terbatas

Bitcoin dibuat dalam jumlah supply terbatas. Maksimal jumlah Bitcoin adalah 21 juta.

Dalam jumlah supply terbatas, sementara jumlah mata uang semakin bertambah, nilai Bitcoin pada mata uang jadi bertambah. Apa lagi, pemerintah semua negara besar di dunia selalu cetak uang dengan jumlah besar tiap tahun.

Maka Bitcoin punya dampak deflationary karena jumlah yang terbatas. Kebalikannya dengan mata uang yang inflationary karena jumlah yang terus bertambah.

b. Tidak Ada Korelasi dengan Aset Kelas Lain

Bitcoin adalah kelas aset yang tidak berkorelasi dengan kelas aset yang lain. Berkorelasi itu artinya, jika harga emas naik maka harga Bitcoin ikut berpengaruh, atau harga Bitcoin dipengaruhi oleh pergerakkan harga saham.

Tidak ada korelasinya Bitcoin dengan aset lain membuat Bitcoin dicari untuk diversifikasi. Jika pegang Bitcoin, investor dapat lakukan diversifikasi lebih maksimal, tak perlu cemas imbas peralihan harga aset lain ke nilai Bitcoin.

Mulai banyak investor institusi yang masuk ke Bitcoin, satu diantaranya, karena mengetahui jika Bitcoin penting untuk aset diversifikasi.

c. Security (No Single Point of Failure)

Bitcoin yang sistemnya terdesentralisasi membuat semakin aman dari serangan hacker. Karena untuk hacker menyerang Bitcoin wajib melakukan ke banyak komputer, yang memerlukan biaya besar.

Berlainan dengan sistem terpusat, lebih rawan terhadap serangan, hacker hanya perlu serang ke satu titik. Usahanya bisa dikatakan lebih mudah dibanding serang sistem yang terdesentralisasi.

d. Unggul dari Emas

Beberapa keunggulan Bitcoin dibandingkan emas, adalah:

Divisibility (Kemampuan Dibagi menjadi jumlah kecil): Misalnya punya 1 batangan emas, lalu ingin beli barang dengan harga 0,5 batang emas, tidak mungkin, karena sangat susah untuk membagi emas itu jadi potongan kecil untuk lakukan transaksi. Tetapi, bila mempunyai 1 BTC, kita bisa mengirim/mentransaksikan jumlah sekecil 0,00000001 BTC . Jadi, konsumen bisa bertransaksi dengan angka yang se-akurat harapkan (seperti 0.4981537 BTC).

Ease of Transaction (Kemudahan Transaksi): Emas cukup berat secara fisik sehingga susah dibawa kemana saja, dan beresiko untuk dibawa dengan jumlah besar. Berbeda dengan Bitcoin yang tidak mempunyai berat fisik – asal ada internet, kita bisa mengirim Bitcoin ke siapa saja di dunia dengan jumlah berapa saja dalam 10 menit.

Security of Storage (Keamanan Penyimpanan): Emas mudah diculik, dan untuk simpan emas dengan jumlah besar dengan aman, Anda perlu mengeluarkan beberapa langkah pengamanan yang cukup besar (seperti brankas penyimpanan, kamera keamanan, dan yang lain). Tetapi, Anda bisa simpan Bitcoin dengan jumlah berapapun di aplikasi crypto terpercaya (seperti Pintu) atau *hardware wallet (*dompet perangkat keras) sekecil USB stick, seperti Ledger atau Trezor.

3. Kekurangan

Fluktuasi harga yang luar biasa volatile dan tren kenaikan harga yang paling tajam, membuat Bitcoin susah sebagai alat pembayaran atau currency.

  • Orang cenderung pegang Bitcoin untuk investasi daripada sebagai alat pembayaran. Sayang jika Bitcoin dilepas dengan nilainya yang selalu bertambah
  • Uang perlu stabilitas nilai. Bayangkan jika setiap waktu nilainya berbeda.

Maka saat ini, Bitcoin lebih cocok sebagai store of value daripada mata uang. Lebih dipakai untuk komoditas seperti emas.

Umur Bitcoin masih muda. Baru sepuluh tahun beredar.

Oleh karena itu market capnya masih relatif kecil. Sekarang, market cap Bitcoin 1 Triliun US$ vs Emas 10 Triliun.

Kecilnya market cap membuat fluktuasi harga Bitcoin jadi sangat volatile. Relatif mudah untuk hanya beberapa pihak menggerakkan pasar Bitcoin.

Kekuatan jaringan Blockchain mengolah transaksi masih rendah. Jumlah transaksi per detik di Bitcoin hanya 4.5 an per detik, jauh di bawah Visa yang sanggup mengolah ribuan transaksi per detik.

Sementara, sebagai alat tukar, Bitcoin harus mampu mengolah banyak transaksi dalam sekejap. Bayangkan jika hanya ingin membeli kopi, lalu bayar dengan Bitcoin perlu waktu 20 menit.

Kecepatan transaksi atau scalability jadi rumor penting buat Bitcoin. Tetapi, ini jadi masalah dalam sistem desentralisasi.

Karena sistemnya berbasis komunitas, mau tidak mau, tiap transaksi perlu waktu lebih lama untuk semua pihak dalam komunitas setuju. Berbeda dengan sistem sentral yang hanya perlu satu pihak untuk berkata ‘yes’.

Jadi disini masalahnya, desentralisasi memberikan proteksi keamanan, tapi mempunyai proses yang lambat.

Sedangkan kecepatan transaksi jadi faktor penting dalam adopsi Bitcoin sebagai alat pembayaran. Transaksi keuangan butuh speed.

4. Legalitas Bitcoin

Perdagangan aset Kripto sudah diperbolehkan di Indonesia, diatur oleh Bappebti – lembaga pengawas perdagangan berjangka komoditi.

Jual beli cryptocurrency, seperti Bitcoin, sudah legal.

Bukankah pemerintah umumkan jika Bitcoin ilegal ?

Yang tidak atau belum bisa di Indonesia adalah memakai Bitcoin untuk alat transaksi pembayaran. Di Indonesia masyarakat tidak dapat beli sesuatu dan membayar dengan Bitcoin.

Jadi , clear masalah boleh tidaknya investasi Bitcoin di Indonesia.

Adanya ketetapan hukum masalah diperbolehkannya perdagangan Bitcoin di Indonesia membuat investasi di aset kripto ini jadi terlindungi. Mulai banyak beberapa perusahaan yang sudah resmi teregulasi menawarkan layanan untuk investasi di aset kripto.

Peraturan jual beli bitcoin sebagai komoditas tertuang dalam:

  1. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 99 Tahun 2018 mengenai Peraturan Umum Penyelenggaraan Perdagangan Berjangka Aset Kripto dan
  2. Ketentuan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 5 Tahun 2019 tentang Ketetapan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto (Crypto Asset) di Bursa Berjangka. Aturan ini ditandatangani pada 8 Februari 2019.

Sesuai peraturan Bappebti itu, jual beli Bitcoin dan mata uang digital yang lain legal di Indonesia. Orang bisa lakukan jual beli lewat pedagang aset kripto.

Bitcoin dan aset kripto yang lain diawasi dengan ketat oleh Bank Indonesia dan OJK, yang melarang Bitcoin dan mata uang digital yang lain sebagai bentuk pembayaran karena bukan datang dari industri keuangan.

Bagian penting dalam Peraturan Bappebti adalah masalah exchange, tempat di mana investor sekarang ini melakukan jual, beli, simpan (rupiah atau coin) dan transfer aset kripto. Keamanan dan regulasi exchange jadi hal yang penting buat investor.

Dalam peraturan Bappebti, pedagang aset kripto adalah exchange Bitcoin, yang sekarang ini dipakai investor untuk lakukan jual beli aset kripto.

5. Cara Jual Beli Bitcoin

Proses jual beli Bitcoin dilakukan lewat exchange atau bursa. Exchange sediakan layanan untuk beli, jual, simpan dan transfer aset kripto.

Exchange ini berfungsi seperti marketplace, tempat yang mempertemukan pembeli dan penjual aset kripto. Transaksi aset kripto terjadi antara para member atau pedagang anggota exchange itu.

Exchange tidak melakukan jual beli. Perannya hanya jadi tempat perantara dan akan mengambil beberapa fee, seperti fee jual beli dan penarikkan uang.

Tiap exchange menentukan tipe aset kripto yang dapat diperjualbelikan di marketplace mereka, Tiap exchange punya daftar aset kripto yang tidak sama.

Berbeda dengan transaksi di bursa saham, yang mana investor harus melalui broker sebagai perantara, sedangkan di exchange bitcoin, transaksi langsung terjadi antara investor. Tidak ada broker perantara dalam transaksi di exchange bitcoin.

Untuk lakukan transaksi asset kripto, investor harus memilih ‘pair’ koin yang akan ditransaksikan. Exchange akan sediakan berbagai pair di platform.

Pair yang umum adalah Bitcoin / Rupiah (BTC/IDR).

Karena transaksi bitcoin terjadi antara member exchange, nilai jual beli bitcoin antar exchange bisa tidak sama. Investor dapat mengawasi setiap waktu di internet masalah di mana harga bitcoin yang paling bersaing.

Langkah – langkah lakukan transaksi bitcoin atau aset kripto di exchange adalah seperti berikut:

  1. Daftar akun di exchange cryptocurrency. Sekarang ini 13 perusahaan tercatat sah di Bappebti.
  2. Lakukan verifikasi KYC. Isi data, ambil foto selfie dan KTP. Tunggu hingga verifikasi disetujui pihak exchange
  3. Melakukan deposit uang ke rekening exchange. Bisa memakai beragam cara, mulai dari transfer bank, e-money sampai setor tunai.
  4. Tentukan pair aset kripto yang akan ditransaksikan.
  5. Beli bitcoin atau aset kripto dengan memakai deposit rupiah. Pembelian dapat dilakukan 24/7 antara anggota exchange.
  6. Simpan bitcoin hasil pembelian di wallet, bisa di exchange atau dikelola sendiri.
    Jual bitcoin dan terima hasilnya dalam rekening rupiah di exchange. Harus pilih pair bitcoin /rupiah.
    Menarik dana (withdraw) dari exchange ke rekening bank pribadi.

Penyimpanan bitcoin atau aset kripto dilakukan di ‘wallet’. Sama persis saat kita mempunyai uang, maka ditaruh di dompet atau brankas, tetapi perbedaannya adalah penyimpanan bitcoin dilakukan secara digital.

Wallet disiapkan exchange atau investor bisa punya wallet sendiri. Sama dengan nasabah yang simpan uangnya di bank atau di dalam rumah.

Apa yang bisa dilakukan dengan asset kripto bitcoin itu ?

Pertama, bitcoin disimpan dengan harapan harga bitcoin akan bertambah seiring berjalannya waktu. Tren harga bitcoin yang bertambah membuat banyak orang masuk, lakukan investasi di koin digital ini.

Kedua, bitcoin dijual untuk memperoleh keuntungan. Hasil penjualan langsung bisa di transfer ke rupiah ke rekening bank.

Ketiga, bitcoin diubah ke koin kripto yang lain, yang mungkin dipandang lebih potensial. Proses konversi benar-benar mudah dilakukan karena dieksekusi secara digital.

Keempat, bitcoin dipakai sebagai alat pembayaran. Telah banyak tempat yang menerima bitcoin. Bahkan juga baru – baru ini PayPal terima transaksi dengan bitcoin.

6. Tempat Simpan Bitcoin Aman

Sama dengan uang atau emas, tempat penyimpanan aset jadi poin penting. Bagaimana simpan aset digital yang aman.

Kita sebagai pemilik Bitcoin mempunyai dua keys, yaitu:

  • Public Key. Ini adalah alamat publik untuk orang mentransfer Bitcoin. Alamat ini terbuka dan diketahui orang. Ibaratnya seperti no rekening bank.
  • Private Key. Ini adalah alamat private yang tidak boleh diketahui orang dan harus benar-benar dijaga kerahasiaannya. Ibaratnya PIN di rekening bank.

Bagaimana memastikan private-key kita aman ?

Pertama – tama, kita harus pastikan lakukan transaksi di exchange yang sah karena saat transaksi di exchange maka private dan public key disimpan oleh exchange.

Sudah pasti, selalu ada peluang resiko jika exchange bisa di hack atau kebobolan keamanannya. Dapat dilihat lewat Google banyak kejadian exchange kripto yang dibobol oleh hacker, satu diantaranya paling populer adalah kasus exchange Mt. Gox.

Cara yang lebih aman lagi adalah kita mempunyai wallet pribadi untuk simpan Bitcoin . Maka, Bitcoin tidak disimpan di exchange, tapi di wallet pribadi kita.

Setiap selesai lakukan transaksi beli ke exchange, Bitcoin kita kirim dari exchange ke wallet pribadi yang lebih secured.

Tapi, saat nanti, kita ingin jual Bitcoin maka harus mengirim Bitcoin dari wallet pribadi ke exchange.

Simpan Bitcoin di wallet pribadi, memang, semakin aman dibanding di exchange, tapi semakin lebih merepotkan jika melakukan trading Bitcoin. Biaya transfer dari dan keluar exchange lumayan besar.

7. Passive Income

Beberapa orang berpikiran jika Bitcoin dan aset kripto hanya untuk datangkan keuntungan jangka pendek melalui trading. Buy Low, Sell High.

Faktanya, Bitcoin bisa hasilkan passive income. Investor tak perlu trading, bisa memperoleh cuan secara pasif.

Ada dua cara Bitcoin memberikan passive income:

  • Lending
  • Staking

a. Lending

Sesuai namanya, investor pinjamkan Bitcoin miliknya pada orang lain dan terima imbalan bunga. Bunganya sangat menarik, bisa di atas 10% setahun.

Proses lending dilakukan melalui platform tertentu. Yang populer ada dua, yakni:

  • Celsius
  • Blockfi.

Caranya benar-benar mudah. Kita tinggal buka akun di aplikasi lending dan apabila sudah, bisa langsung mengirim Bitcoin ke platform tersebut.

Tiap minggu, kita akan terima pembayaran bunga dalam Bitcoin. Bunga ini bisa kita pinjamkan lagi.

Yang penting jadi perhatian dalam Lending adalah resikonya. Karena privat key Bitcoin kita serahkan ke platform lending.

b. Staking

Staking adalah bagian proses dari kesepakatan dalam blockchain. Mekanisnismenya disebut proof of stake.

Proses konsensus proof of stake tidak dilakukan di Bitcoin, tapi di alternatif koin, seperti Cardano, Solana dan sebagainya.

Return yang diberi staking lumayan, bisa 5% ataupun lebih, tergantung pada masing – masing koin.

Caranya mudah. Kita cari exchange yang sediakan sarana staking di koin yang kita miliki. Kita tentukan stake lewat exchange tersebut.

Perbedaannya dengan lending adalah staking relatif semakin aman karena private-key kita tidak dipindahkan ke pihak lain.

8. Jenis Cryptocurrency

Beberapa orang yang berpikir bahwa cryptocurrency adalah Bitcoin, Bitcoin adalah crypto. Asumsi bahwa investasi di Crypto adalah cuma investasi di Bitcoin saja, sering terjadi.

Walau sebenarnya, Bitcoin menguasai 60% pasar crypto di dunia. Sisanya, 40%, dikuasai oleh alternatif koin – panggilan untuk koin di luar Bitcoin.

Alternatif koin tawarkan use cases dan teknologi yang mempunyai tujuan memperbaiki dan lebih baik dari Bitcoin.

Bitcoin disebut 1st generation Blockchain, alternatif coin disebut 2nd generation serta ada yang 3rd generation.

Jika pemakaian Bitcoin adalah cuma untuk store of value sebagai komoditi, alternatif coin tawarkan beragam use cases yang semakin luas, seperti smart contract, digital identify, decentralized exchange (dex), database dan yang lain.

Sebab itu, untuk mereka yang ingin masuk ke investasi di crypto harus pelajari projek – projek yang ditawarkan alt coin dan melihat yang mana paling potensial.

Keuntungan terjun ke alt coin:

  • Tawarkan keuntungan lebih tinggi karena market cap masih kecil dan baru berkembang
  • Diversifikasi dari Bitcoin karena projek alt coin banyak yang berbeda beda.

Tetapi, risiko alt coin pun tidak kecil. Karena projeknya masih baru, semua kemungkinan terjadi.

Disamping itu, melakukan investasi di alt coin memerlukan pengetahuan technical untuk memahami use case dan adopsinya secara baik.

9. Resiko Investasi Bitcoin

Setiap exchange di bagian bawah situs, tertulis “Disclaimer: Perdagangan aset krypto mempunyai kesempatan dan resiko yang tinggi. Pastikan Anda menggunakan pertimbangan yang matang saat membuat keputusan jual dan beli aset Anda. Exchange tidak memaksa pengguna untuk lakukan transaksi jual beli dan semua keputusan jual beli aset uang digital Anda adalah keputusan Anda sendiri dan tidak dikuasai oleh pihak mana saja.”

Berikut adalah resiko investasi di Bitcoin:

a. Fluktuasi Harga

Peristiwa kenaikan nilai tukar bitcoin yang terjadi begitu cepat sekaligus memperlihatkan harga bitcoin bisa menurun secara cepat juga. High Risk High Return adalah karakter cryptocurrency.

Fluktuasi harga di Bitcoin bisa termasuk ekstrem. Kenaikan, dan tentunya penurunannya, luar biasa tajam.

Yang pernah main Bitcoin pernah bercerita jika dalam 1 bulan harga Bitcoin bisa melonjak 10 x lipat. Itu artinya bisa turun 10 x lipat juga.

Berikut tren harga Bitcoin dalam setahun terakhir:

b. Dibobol Hacked

Sistem blockchain-nya memang sangat aman dan terbuka. Sistem peer to peer membuat proses kontrol di blockchain sangat solid.

Tapi, yang justru rawan adalah banyak kasus exchange yang di hack. Bisa dilihat di internet masalah kasus – kasus pembobolan exchange di beberapa negara.

Dan pembobolan itu bukan hanya terjadi di exchange kecil, tapi exchange besar. Exchange yang telah mempunyai nilai transaksi bisnis jutaan dollar setiap harinya juga bisa terkena serangan hacker dan mengalami rugi yang tidak kecil.

c. Regulasi

Peraturan soal cryptocurrency masih cukup baru di Indonesia. Walau ketentuan ini memberikan legalitas yang solid buat perdagangan cryptocurrency di Indonesia, tapi ketentuan itu membuat beberapa peraturan yang bisa memunculkan resiko bagi nasabah.

Salah satunya adalah peraturan bahwa exchange berstatus terdaftar sebagai “Calon Pedagang Fisik Aset Kripto”, wajib dalam maksimal satu tahun mengajukan menjadi “Pedagang Fisik Aset Kripto”. Saat ini, ke-13 perusahaan yang bisa lakukan perdagangan Bitcoin masih berstatus “Calon Pedagang Fisik Aset Kripto”.

Pengajuan ijin setelah satu tahun ini bisa ditolak oleh Bappebti apabila ditolak maka status terdaftarnya ditarik dan harus mengembalikkan atau mentransfer aset kripto anggota ke exchange lain.

Proses penutupan exchange setelah satu tahun sejak terdaftar dapat memunculkan kesusahan nasabah. Karena harus mengurusi perpindahan aset dan memastikan jika exchange yang ditutup memenuhi kewajibannya.

Walau risiko cryptocurrency bisa dibilang tidak kecil, tapi instrument ini masih tetap menarik. Menjanjikan alternatif instrument dengan return yang sangat menarik.

d. Modus Penipuan

Resiko penipuan investasi Bitcoin bukan omong kosong semata. Cukup banyak kasus penipuan mengatasnamakan Bitcoin.

Ini muncul karena reputasi Bitcoin makin naik. Dan ini masih merupakan instrument yang baru.

Satgas Waspada Investasi OJK menjelaskan banyak pihak yang tidak bertanggungjawab memanfaatkan popularitas Bitcoin. Modusnya, orang tawarkan investasi dengan imbal hasil tinggi tanpa risiko untuk menipu seseorang.

Pihak Satgas sudah hentikan beberapa modus penipuan menyamar sebagai investasi di sektor cryptocurrency.

Salah satu contohnya pada 2015 terjadi kasus penipuan oleh seorang masyarakat Amerika Serikat bernama Trendon Shavers. Ia membangun perusahaan bursa Bitcoin bernama Bitcoin Saving. Shaver setelah itu dinyatakan bersalah karena sudah menipu dengan pola Ponzi sebesar US$ 150 juta.

e. Lupa Password

Bagaimana jika mempunyai brankas di dalam rumah untuk simpan benda berharga, lalu lupa kombinasi kuncinya ? Itu disaster ! Brankas tidak dapat dibuka.

Hal sama terjadi bila pemilik bitcoin kelupaan PIN/password wallet. Sama, tidak bisa buka dan jual Bitcoin karena di wallet itu tersimpan private-key yang dipakai untuk mengakses Bitcoin.

Apakah password/PIN yang kelupaan, tidak dapat direset, seperti pada aplikasi online banking ?

Ini yang yang membedakan Bitcoin dengan rekening di perbankan atau PayPal.

Desain Bitcoin dibikin sebegitu rupa sehingga hanya pemilik saja yang dapat mengetahui dan mengatur sandi wallet dan private-key uang digital ini. Tujuannya agar tidak ada seseorang, negara atau institusi, yang bisa buka bitcoin, selain pemiliknya.

Keadaan ini berbeda dengan aplikasi mobile atau akun PayPal, yang mana jika user lupa maka sandi dapat di reset ulang dengan bantuan bank. Di Bitcoin sekali lupa, sudah gone. Tidak dapat reset ulang.

Pastikan jaga privat – key baik – baik, bukan hanya dari pencurian, tapi juga jangan sampai lupa akan kombinasi PIN/password wallet. Ingat baik – baik, jangan sampai lupa.

Ini permasalahan yang keliatannya sederhana, tapi punyai implikasi yang serius. Koran populer NYTimes pernah menulis informasi masalah orang – orang yang kehilangan jutaan dollar karena lupa PIN/password wallet mereka.

f. Salah Kirim Alamat Wallet

Pernah lihat alamat wallet ?

Memiliki bentuk alfanumeric yang cukup panjang dan unik. Susah untuk diingat, berbeda dengan no rekening bank yang cukup singkat, hingga mudah diingat.

Masalahnya, kalau salah alamat wallet, bitcoin bisa terkirim ke orang yang keliru dan tidak dapat di recover kembali. Berbeda dengan salah transfer di bank, yang nasabah mungkin bisa meminta bank untuk mengembalikkan dananya.

Di bitcoin, tidak ada perantara, seperti bank, maka dari itu tiap transaksi yang terjadi tidak dapat dibatalkan atau dikembalikkan lagi. Salah catat alamat wallet pasti terkirim ke orang yang salah dan tidak dapat diapa-apakan lagi.

Karena itu, pastikan betul alamat wallet telah ditulis secara benar, saat sebelum lakukan pengiriman bitcoin.

10. Diversifikasi

Investor Bitcoin harus lakukan diversifikasi. Ada dua jenis diversifikasi:

a. Diversifikasi Aset

Diversifikasi portofolio adalah cara yang harus dilakukan. Ini udah jadi patokan bahwa tidak boleh menyimpan semua uang di satu instrumen, apa lagi yang resikonya tinggi sekali.

Bitcoin sangat menarik sebagai instrumen investasi. Return-nya tinggi, benar-benar likuid, mudah diperdagangkan dan benar-benar populer.

Tetapi, resikonya juga tinggi. Fluktuasi harga Bitcoin bisa benar-benar ekstrim.

Bentuk kehati – hatian kita adalah dengan tidak menyimpan semua uang di Bitcoin. Simpan sebesar yang kita mampu untuk kehilangan.

Artinya, simpan ‘uang dingin’ di Bitcoin. Siap untuk kehilangan uang ini.

b. Diversifikasi Exchange

Jual beli aset kripto tidak satu exchange, tapi di beberapa untuk pastikan jika yang satu ada masalah, masih ada exchange lainnya.

Apa lagi, saat Bitcoin yang dimiliki disimpan di wallet milik Exchange. Kita harus benar – benar percaya akan sistem keamanan wallet milik exchange tersebut.

Banyak kasus exchange yang kecolongan mengingatkan kita bahwa walaupun sudah banyak perlakuan untuk menjaga keamanan exchange dari serangan hacker, tapi tetap terjadi kasus – kasus pembobolan. Daftar exchange yang kebobolan tidak habis, dari 2011 sampai saat ini 2021, ada saja peristiwanya.

Salah satu cara mengatasinya adalah menyimpan investasi Bitcoin di beberapa exchange. Tidak terpatok di satu exchange semata.

Belajar Investasi Bitcoin untuk Pemula

Kita tidak dapat tidak pasti melihat Bitcoin. Instrument investasi ini moncer dibanding instrument lain dalam dua tahun akhir.

Tetapi, belajar Bitcoin penting saat sebelum masuk ke dalamnya. Paling tidak ada 10 poin penting yang harus dipahami.